Sabtu, 08 Oktober 2016

Cerpen

Dewi Kunti  itu  AkuAku
Karya Atina Ilma N

Liburan. Ku hembuskan nafasku dengan sangat lega, aku mulai merasakan beban yang ada di pikiranku mulai menguap, menghilang. Inginku merasakan suasana yang baru, yang jauh dari kebisingan kota Jakarta. Ya, dan untungnya hal itu terwujud, besok aku akan liburan ke Jogja, tempat yang begitu asri, kental dengan kebudayaan, dan mungkin tak sebising kota Jakarta ini. Setidaknya aku bisa merasakan suasana baru.
“heh kuntilanak, minggir dong! Aku mau lewat” celetuk seorang remaja laki-laki di belakangku. Aku tak menggubrisnya, kubiarkan dia kesal dengan sikapku. “dasar kuntilanak!” oloknya sambil berjalan, dan dengan sengaja menyenggolku. Kubiarkan dia, aku sudah muak dengan olokan tentang namaku itu. Setiap hari selalu saja dia mengolokku, aku dulu memang sempat menggubris ocehannya itu, dan aku selalu kehabisan kata-kata untuk membalas olokannya. Hingga kini, aku lebih memilih untuk diam.
, yah begitulah aku, meskipun sudah berusaha untuk lebih memilih diam, menganggap itu angin lalu, tetap saja dia mencari masalah denganku. Menjadikan namaku bahan lelucon satu sekolah, mempermalukanku di depan semua siswa. Membuatku semakin benci terhadapnya!
Aku tak berminat untuk menanyakan arti namaku terhadap kedua orang tuaku. Mereka terlalu sibuk. Aku bosan di rumah, oleh karena itu kuputuskan untuk liburan ke Jogja, tempat eyangku tinggal. Ya, cukup sendirian aku ke sana, sempat dilarang juga oleh papa, tapi dengan modal muka melas dan berjibun alasan, akhirnya papa mengijinkanku.
“hati-hati disana, jaga sikap, jangan ngrepotin eyangmu, nurut sama eyang….” Dan entah apa lagi nasehat mama yang diberikan kepadaku, aku tak terlalu memperhatikannya, hanya aku jawab dengan anggukan-anggukan.
Mama mengantarkanku sampai stasiun, dengan suara khawatirnya dia masih saja menanyakan apakah aku akan  baik-baik saja dalam kereta sendirian? Dan untuk kesekian kalinya, aku meyakinkan mamaku, lagi. Tak berhenti disitu, mama masih saja mengulang-ulang nasehatnya yang bahkan aku sudah hafal di luar kepala. “ iya ma, iya. Kereta sudah mau berangkat, aku masuk dulu. Dah mama” kucium pipi mamaku.


Sampai di stasiun lempuyangan, aku harus mencari dokar pesanan eyangku khusus untuk menjemputku, ternyata Yogyakarta juga panas, meskipun tak sepanas Jakarta.
“mbak Dewi dari Jakarta…!!” ada yang menyerukan namaku! Secepat itu aku menemukannya. Aku mencari sumber suara tersebut. Ah ternyata di pojok sebelah barat.
“permisi pak, dokar pesenan Eyang siswoyo? Benar?” tanyaku  dengan hati-hati.
“mbak dewi ya? Oalah monggo-monggo, injih mbak ini pesenan eyang, monggo..” jawab bapak dokar itu dengan ramah.
Sepanjang jalan bapak dokar itu menceritakan tentang kota Yogyakarta, kental dengan logat jawanya yang lucu, menambah keramahan pada dirinya.
Sesampainya di rumah eyang, aku langsung mengajak eyang untuk berjalan-jalan mengelilingi kota Yogyakarta. “loh loh, apa kamu tidak capek nduk? Mbokya istirahat sebentar to” kata eyang. Tapi aku tidak mau istirahat, aku ingin melihat keindahan kota yogya, tapi baiklah bila memang eyang berkata seperti itu, aku tidak mau membantah eyang, teringat dengan nasehat mama.
Sore telah tiba, aku segera mengajak eyang kembali untuk mengelilingi kota gudeg ini. “eyang, dewi sudah istirahat lo, kapan jalan-jalannya?”. “hahaha ternyata kau ini bersemangat sekali nduk?” kata eyang dengan terkekeh. Aku tak mau berlama-lama menunggu, aku segera menarik tangan kakekku, mengajaknya naik ke dokar dan kami melesat ke tempat tujuan kami. Malioboro.
Kami berjalan jalan sepanjang malioboro, banyak sekali pernak-pernik yang dijual disana, selain itu harganya juga sangat murah, aku memborong pernak-pernik itu, dan kakek hanya bisa geleng-geleng kepala.
Kakek banyak sekali bercerita, akupun semakin banyak bertanya tentang hal-hal yang membuatku penasaran dan menarik. Ternyata Yogyakarta memang sangat istimewa, aku ingin sekali tinggal disini.
“eyang kenapa nama sultan Yogyakarta sama semua? Padahalkan sekarang zamannya sudah beda eyang, masa namanya masih seperti jaman dulu sih?” tanyaku penasaran. Kakek hanya tersenyaum.
“dewi, la nama kamu sendiri itu nduk?”
Aku kaget! Namaku? Eyang  menyinggung namaku? Ada apa dengan namaku?ini waktu yang pas untukku bertanya.
“eyang  sebenarnya aku punya masalah dengan namaku” kataku pelan. Eyang sedikit terkejut, tapi roman mukanya kembali lagi seperti semula. “loh masalah apa to nduk?”
“temenku yang, dia menolok-olok namaku, memanggilku dengan nama kuntilanak.” Aku terbawa suasana, mengembalikan memoriku saat aku dipermalukan di depan semua siswa. Tak terasa air mataku mengambang.”
“hahahaha, dewi dewi siapa yang berani mengolok-olok cucu eyang yang cantik ini? Hahaha” kakek malah tertawa terbahak bahak, aku tersenyum malu, kini air mataku sudah pergi entah kemana.
“eyang aku serius” kataku merajuk. “eyang juga serius nduk, memangnya kamu diolok-olok apa?” wajah kakek berubah menjadi tenang.
“kuntilanak” jawabku cepat.” Hahahahah….hahahaha” eyang kembali tertawa terbahak-bahak. Aku memasang muka cemberut, mendiamkan eyang tertawa sendirian.
“ayo ikut eyang” eyang mangajakku memasuki pasar bringharjo, disana eyang membeli satu wayang kulit. “kamu tahu ini namanya siapa?” tanya eyang serius. Aku hanya menggeleng, memang tidak tahu siapa nama wayang itu. “namanya seperti namamu nduk, Dewi Kunti”. Aku terperangah kaget, jadi..namaku diambil dari tokoh pewayangan? Bodohnya aku.
“dan kau tau nduk? Dia merupakan ibu dari Arjuna, wayang yang paling bagus, tampan, salah satu pandawa.” Ucap eyang dengan tersenyum.” Dan suaminya merupakan seorang Prabu, Prabu Pandu”. Deg! Pandu? Aku kaget. Mukaku memerah. “Dewi? Nduk kamu tak apa?”

“pagi kuntilanak” entah sapaan atau ejekan, aku membalasnya dengan senyum manis.“eh van. Aku Cuma mau bilang, terserah kalau kamu mau memperolok aku dengan namaku itu, aku tak apa, toh aku bangga dengan namaku itu, nama yang memiliki arti, nama seorang ibu dari pandawa, dari raden arjuna, wayang yang paling tampan, dan juga istri dari seorang Prabu…”
“Prabu Pandu?” potongnya dengan cepat. Aku memicingkan mata, “jadi kamu..?” tanyaku penasaran. “iya dewi, aku sudah tahu semua itu” jawabnya sambil meninggalkanku.
Aku termenung, jadi selama ini dia mengetahui arti namaku? Lalu mengapa dia memperolokku?

“Akan kau namakan siapa anak kita ini?” tanyaku dengan lembut. “siapa lagi? Akan kunamai dia Arjuna. Tampan seperti ayahnya, hehehe”. Aku cubit lengannya dengan mesra.
Ku lihat wayang kulit yang tergantung di dinding, Dewi Kunti dan Prabu Pandu. Sebentar lagi akan bertambah satu, Arjuna.
Aku tersenyum, ya akulah sang dewi kunti…

~selesai~